Sunday, 6 September 2015
Sunday, 16 August 2015
GoodNew2us
+±+++++++++
Yesaya 59:21 (TB) Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN.
Sunday, 2 August 2015
Saturday, 1 August 2015
S U A P |
| Posted: 31 Jul 2015 04:00 PM PDT Suap atau korupsi yang sudah mengakar di dalam pemerintahan suatu negara sangatlah susah untuk dibasmi sampai habis. Perlu waktu dan keberanian untuk menghapus tindakan tersebut. Dibutuhkan orang-orang yang jujur dan tegas untuk menghilangkan tindakan yang merugikan negara. Namun pada kenyataannya, suap ternyata telah terjadi pada zaman dahulu. Tatkala Petrus dan Yohanes pergi ke tanah Samaria untuk mendoakan orang-orang itu agar memperoleh Roh Kudus, datanglah tukang sihir yang juga bertobat yang bernama Simon. Simon melihat bahwa kuasa (Allah) yang dimiliki oleh Petrus dan Yohanes sangatlah besar sehingga Roh Kudus turun atas orang-orang di Samaria. Dan Simon hendak menyuap Petrus dengan uang yang dimilikinya agar Petrus mau memberikan juga kuasa Allah. Namun dengan tegas Petrus menolak dan mengatakan bahwa kuasa Allah tidaklah diperjualbelikan. Itu adalah anugerah bagi setiap orang yang mau percaya dan bertobat. Simon memang telah bertobat, akan tetapi pertobatan Simon hanyalah secara jasmani namun secara rohaninya ia masih berpikir seperti tukang sihir (masih membawa manusia lamanya). Ia mengira dapat memiliki "ilmu ajaib" dengan membelinya. Seolah dengan uang yang dimiliki, ia bisa melakukan apapun yang dikehendaki. Sudah menjadi bagian dari hidup kita untuk memiliki hati yang lurus di hadapan Allah agar tidak terjerat dari segala bentuk kejahatan yang dibenci Allah. Pertobatan yang sejati haruslah secara radikal. Bukan hanya mengaku dengan mulut untuk percaya kepada Allah namun juga memiliki kehidupan iman yang terus bertumbuh. Tetapi Petrus berkata kepadanya : "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. Kisah Para Rasul 8:20 Renungan oleh Natanael JK S U A P is a post from: Renungan Harian Kristen |
| You are subscribed to email updates from Renungan Harian Kristen To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Friday, 31 July 2015
Menjadi Anak Bukanlah Jaminan |
| Posted: 30 Jul 2015 04:00 PM PDT Menyandang status sebagai "Anak" (Anak Allah) tentulah membuat kita sebagai orang Kristen sangat bangga. Tak sedikit juga yang bahagia dan gembira dengan kedudukan tersebut. Hingga akhirnya pernah timbul suatu pernyataan atau satu pandangan bahwa kedudukan sebagai "Anak" adalah jaminan untuk memperoleh keselamatan. Apakah benar demikian? Sekali anak tetaplah anak. Itu memang benar. Namun dengan status sebagai anak apakah kehidupan kita sebagai orang percaya akan mulus tanpa rintangan? Apakah dengan status anak kita akan selalu berjalan dalam koridor Allah. Sejenak mari kita tengok kisah tentang bangsa Israel saat Allah memanggil keluar dari tanah Mesir. Allah memanggil bangsa Israel dengan sebutan anak (Hosea 11:1, Matius 2:15). Namun pada kenyataannya bangsa Israel tidak langsung masuk ke dalam tanah kanaan yang telah dijanjikan. Dibutuhkan waktu kurang lebih 40 tahun untuk masuk ke dalam tanah perjanjian. Selama masa itulah bangsa Israel berulang kali hidup berpaling dari Allah. Status anak yang disandang bangsa Israel tak menjamin untuk mereka memperoleh jalan tol masuk ke dalam Kanaan. Pada masa perjanjian baru, Yesus memberikan perumpamaan tentang "Anak Yang Hilang". Dengan status sebagai anak, justru si bungsu pergi "meninggalkan" bapanya yang mana di rumah bapa penuh dengan kelimpahan. Menjadi anak tidak menjamin kita tidak akan terhilang. Ini adalah salah point penting dari perumpamaan ini. Lantas apakah dengan status anak, semuanya akan sia-sia dan tak berarti? Tentu saja tidaklah demikian. Yang kita perlu lakukan bukan hanya bangga dengan status kita sebaga anak, melainkan juga hidup seturut dengan kehendak Allah Bapa dan melakukan setiap ketetapan-Nya (Matius 7:21). Percayalah dengan berjalan di jalur yang Allah berikan, kita tidak akan pernah menjadi anaknya yang terhilang. Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari baJa |
Thursday, 30 July 2015
Pakaian Pesta |
| Posted: 29 Jul 2015 04:00 PM PDT Suatu ketika seorang raja hendak mengadakan pesta yang besar. Ia menyuruh para pegawainya untuk mengundang seluruh rakyat agar mereka bisa hadir di pesta itu. Hingga saat hari pelaksanaan pesta itu raja merasa bahagia karena semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya. Namun di tengah acara pesta, raja menjumpai seorang tamu undangan yang membuatnya kecewa. Ia datang ke pesta itu dengan tidak mengenakan pakaian pesta. Akhirnya sang rajapun menyuruh pengawal untuk mengusir orang itu karena sang raja merasa bahwa orang itu tidak menghargai pesta yang diadakannya. Tuhan Yesus telah mengorbankan diri-Nya untuk menebus dan menyelamatkan kita dari dosa. Dia telah melaksanakan kehendak Allah Bapa. Sudah seharusnya kita menghargai pengorbanan Kristus dengan menjadikan hidup kita berarti dan berkenan di hadapan-Nya (Matius 5:20). Setiap perbuatan yang benar dan seturut dengan kehendak Allah. Kekristenan bukan sekedar identitas atau agama. Menjadi orang Kristen yang percaya kepada Yesus seharusnya disertai dengan kehidupan rohani yang bertumbuh dan bukan hidup yang biasa-biasa saja. Menyambut undangan Allah Bapa di dalam Yesus Kristus secara pribadi dan lebih intim. Dengan jubah kebenaran yang telah disediakan Allah di dalam kasih karunia-Nya (Yesaya 61:10). Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku : Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga Matius 7:21 Renungan oleh Natanael JK Pakaian Pesta is a post from: Renungan Harian Kristen |
| You are subscribed to email updates from Renungan Harian Kristen To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Monday, 6 July 2015
Sunday, 21 June 2015
Kaya atau miskin hanyalah sementara.
Segala kejayaan atau kegagalan hanyalah sekian puluh tahun.
Jabatan, kedudukan, popularitas & kemuliaan tidak selamanya.
Tidak ada presiden atau raja selamanya.
Tidak ada direktur atau manager yang abadi, sebab kita semua hanya tamu.
Karena tamu, begitu waktunya tiba, kita semua harus beranjak pergi...
Semua harta benda, emas permata, rumah & kendaraan hanyalah pinjaman.
Walaupun semua aset adalah hasil jerih payah keringat kita,
Walaupun kita mempunyai surat kepemilikan yg sah & semua harta benda atas nama kita secara hukum,
Namun semuanya hanyalah kepemilikan sementara,
Hanyalah pinjaman!!
Karena pinjaman, begitu waktunya tiba, harus dikembalikan.
Semua yg ada di badan kita,
yang terkalung di leher, terselip di jari, yang dikenakan di pergelangan tangan, yang tersimpan di saku, semua harus dikembalikan sama seperti ketika kita belum memilikinya!
"Ketika lahir dua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong..."
Waktu datang kita tidak membawa apa-apa,
Waktu pergi kita juga tidak membawa apa pun
Jangan sombong karena kaya & berkedudukan, jangan minder karena miskin dan hina, bukankah kita semua hanyalah tamu & semua milik kita hanyalah pinjaman !!
TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita...
TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita.....
Dan TETAPLAH BERSYUKUR
dalam segala keadaan…
Monday, 15 June 2015
Ambisi Tak Searah |
|
Posted: 10 Jun 2015 04:00 PM PDT
Mike memutuskan untuk bekerja sama dengan ayahnya dalam mengelola toko milik keluarga. Mike dan juga ayahnya bercita-cita untuk membuat tokonya semakin maju dan berkembang. Namun di tengah perjalanan, Mike mulai menyimpang.
Ayah dan Mike memiliki ambisi awal yang searah namun Mike memutuskan untuk menyimpang karena dirasa peraturan ayahnya tidak akan membuat hidupnya bertambah kaya. Mike telah membuat seluruh keluarganya kecewa.
Ambisi yang tak searah dengan jalan Tuhan hanya akan membawa kita ke dalam dosa. Kita kerap lari dari jalan yang telah Tuhan tentukan. Kita merasa bahwa apa yang telah kita putuskan adalah pilihan terbaik bagi diri kita sendiri.
Oleh sebab itu kita membutuhkan bimbingan Roh Kudus agar dapat mengendalikan ambisi yang kita miliki dengan baik. Ketika kita tidak mampu mengendalikannya, maka ambisi itu akan menjadikan kita lebih buruk di mata Tuhan.
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kolose 3:23
Ambisi Tak Searah is a post from: Renungan Harian Kristen |
| You are subscribed to email updates from Renungan Harian Kristen To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Sunday, 14 June 2015
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya, seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti, bila si petani mengucapkan kata "cukup".
Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan matanya.
Diambilnya beberapa ember untuk menampungnya.
Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana.
Kucuran uang terus mengalir, sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya.
Masih kurang ......,
Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya.
Belum cukup ......,
Dia membiarkan mata air itu terus mengalir,
hingga akhirnya ......,
Petani itu mati tertimbun.
Ya, dia mati tertimbun bersama ketamakannya,
karena ..... dia tak pernah bisa berkata "CUKUP".
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia, adalah "cukup".
Kapankah kita bisa berkata cukup ?
Hampir semua pegawai, merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha, selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang ......, kurang ......, dan kurang .......
Kapankah kita bisa berkata "cukup" ?
Cukup, bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup, adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup, hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa bersyukur.
Tak perlu takut berkata cukup !
Mengucapkan kata cukup, "bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya."
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yg berbahagia...
Saturday, 13 June 2015
Cukup |
| Posted: 12 Jun 2015 09:54 PM PDT Pernah suatu kali seorang teman lama bertanya kepada saya, "Apakah cukup gajimu itu untuk memenuhi kebutuhanmu sehari-hari?" Dan saya pun sambil tersenyum dan bercanda berkata kepadanya, "Ya dicukup-cukupkan saja." Terkadang atau hampir semua orang merasa apa yang sudah mereka terima selalu terasa kurang. Para pengusaha selalu merasa bahwa omsetnya masih kurang tinggi. Para buruh dan karyawan merasa gajinya masih tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Lantas kapan sebenarnya kita bisa mengatakan semuanya telah cukup? Firman Tuhan mengajarkan pada kita agar tidak menjadi hamba uang. Hiduplah dengan mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita. Allah ingin kita menjadi anak-Nya yang senantiasa mengucap syukur dalam segala hal. Percayalah pemeliharaan Allah nyata secara sempurna dalam hidup kita. Cukup adalah bukan berbicara tentang jumlah atau nominal melainkan tentang kepuasan hati. Kata cukup hanya bisa diucapkan oleh orang-orang yang tahu bagaimana untuk mengucap syukur. Jangan mengartikan cukup dengan sebuah keadaan yang stagnasi atau berhenti berusaha dan berkarya. Cukup adalah melihat apa yang sudah kita terima dan bukan apa yang belum kita dapatkan. Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Ibrani 13:5 Renungan oleh Natanel JK Cukup is a post from: Renungan Harian Kristen |
| You are subscribed to email updates from Renungan Harian Kristen To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Friday, 12 June 2015
Harus Bertindak |
| Posted: 11 Jun 2015 04:00 PM PDT Hanya untuk mengatakan percaya saja sangatlah mudah, yang sulit adalah untuk mempraktekkan rasa percaya yang dimiliki. Sama halnya ketika saya belajar berenang sewaktu kecil dulu. Saya tahu bahwa ayah saya akan menolong dan memegangi tubuh saya ketika pertama kali belajar berenang, namun untuk memulainya begitu meragukan. Saya takut tenggelam tanpa ditolong. Saya tidak akan pernah tahu bahwa ayah saya akan selalu menolong dan mendampingi ketika saya tidak memutuskan untuk masuk ke dalam air. Iman tidak akan pernah bekerja jika tidak disertai dengan tindakan. Kita harus bertindak jika benar-benar ingin mendapatkan mujizat. Tidak semua orang sukses melewati ujian iman. Mereka lebih memilih mundur karena keraguan mereka kepada Tuhan. Jangan biarkan keraguan membunuh iman kita. Jangan biarkan keraguan membuat kita semakin jauh dari mujizat yang telah Tuhan sediakan. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Yakobus 2:14 Harus Bertindak is a post from: Renungan Harian Kristen |
| You are subscribed to email updates from Renungan Harian Kristen To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |
Sunday, 7 June 2015
Suatu hari, katak yang kehilangan kesabaran akhirnya berkata kepada siput: "Tuan siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?"
Siput menjawab: "Kalian kaum katak mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, Tapi saya mesti membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah, jadi saya merasa sangat sedih."
Katak menjawab: "Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami."
Dan seketika, ada seekor elang besar yang terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedangkan katak dimangsa oleh elang...
Akhirnya siput baru sadar...ternyata cangkang yang di milikinya bukan merupakan suatu beban...tetapi adalah kelebihannya...
Nikmatilah kehidupanmu, tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. Keirian hati kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan...
Lebih baik pikirkanlah apa yang kita miliki,hal tersebut akan membawakan lebih banyak rasa syukur dan kebahagiaan bagi kita sendiri.










